Dampak buruk FaceTwitter book dan : “either O or 1” ?
Dalam hitungan sekejap mata sesosok manusia masa kini yang hidup dalam dunia digital on-line senyatanya dibanjiri dengan berjuta satuan informasi yang datang menghampirinya seolah tanpa henti. Merebaknya popularitas aktivitas jejaring on-line dan sharing dalam dunia maya terkini seperti; Facebook, Flicker, YouTube, dll menggambarkan betapa keasyikan ini dapat mendominasi serta menelan habis kegiatan sehari-hari bagi para pengguna atau tepatnya para pecandu yang “kebablasan”; tanpa batas dan tanpa arah.
Untunglah dalam menemukan batasan yang wajar perihal beraktivitas jejaring sosial masa kini telah terbit publikasi kajian ilmiah pada jurnal on-line PNAS : Proceedings of the National Academy of Sciences keluaran Amerika Serikat yang mewanti-wanti bahwa keasyikan beraktivitas social media semisal : Facebook ternyata berdampak penurunan nilai akademis rata-rata ---yakni GPA kisaran 3.0 - 3.5 bagi para pecandu FB---
Hasil kajian ilmiah ini dilaksanakan di Universitas Ohio yang menunjukkan bahwa pada umumnya karena keasyikan beraktivitas maka para mahasiswa pecandu FB rata-rata hanya menyediakan waktu belajar antara 1 hingga 5 jam per minggu, jumlah jam yang jauh dari memadai dibanding waktu belajar yang selayaknya 11 hingga 15 jam per minggu bagi para mahasiswa yang tidak keasyikan beraktivitas Facebook. Mahasiswa kelompok ini pun mempunyai nilai GPA dengan nilai rata-rata yang lebih tinggi 3.5 - 4.0.
Akan halnya dampak aktivitas social media yang bercirian intensitas tinggi serta berlangsung serba amat-cepat yakni: Twitter dipandang memberikan pengaruh buruk bagi para pecandunya dalam sisi emosional akni dalam hal kemampuan untuk meresponse yang wajar dalam mengungkap sisi moral dan empati terhadap situasi yang terjadi disekelilingnya. Dalam kajian riset yang dilakasanakan Mary Helen Immordino-Yang dkk. dari institusi BCI : Brain and Creativity Institute di Universitas Southern California di AS mengingatkan sewajarnya sosok manusia butuh waktu beberapa satuan per detik dalam meresponse setiap terjadinya perubahan situasi sosial sekeliling lingkar jejaring sosial yang dikenalnya. Sementara apabila terlanjur keasyikan beraktivitas Twitter yang berlangsung sungguh amat cepat dalam fraksi sepesekian detik: “Twitter and news updates are too fast for brain” !
Ilmuwan merujuk hal tersebut berdasar kajian brain scan menunjukkan bahwa manusia memang mampu meresponse cepat terhadap kondisi sakit yang terjadi secara fisik, namun akan halnya yang berlangsung adalah kejadian emosional atau non-fisik maka orang sesungguhnya butuh waktu yang agak lebih panjang untuk merefleksikan diri bereaksi dengan wajar : admiration of compassion.
Twitter dalam cara bekerjanya memang menyalurkan up-dates { What are you doing ? } info status terkini para pengguna dalam bentuk teks ---ketikan terbatas maks 140 karakter--- Dan memang sediakalanya Twitter diarahkan bagi yang terbiasa bekerja mobile sesaat tengah bekerja diluar kantor dan terlepas dari perangkat komputer laptop-nya hingga mengakses pun cukup dengan perangkat ponsel yang terkoneksi jaringan Internet.
Para Peneliti atas dampak buruk aktivitas Facebook bagi kalangan mahasiwa yang terkungkung dalam keasyikan “facebooking” mengimbuhkan, bahwa yang dibutuhkan bagi mereka adalah untuk membatasi diri dan mengalihkan waktu dari dominansi aktivitas Facebook untuk kegiatan ekstra-kulikuler lain, seperti bermain musik, olahraga, kerja sampingan, dll.
Sementara Peneliti yang melakukan kajian riset aktivitas Twitter yang berlebihan, setidaknya pantas apabila mengingatkan betapa keasyikan yang berlebihan dalam aktivitas on-line masa kini mempertanyakan dampak buruk “social cost” ---khususnya bagi kalangan usia muda---
Walhasil, dalam menggeluti komunikasi dunia digital masa kini maka setiap orang mesti pandai-pandai menata diri sendiri dan agaknya ada baiknya untuk memahami bahwa dibalik dari segala berseliwerannya banjir informasi sehari-hari pada intinya semua dijalankan dengan kode perintah bahasa komputer bilangan biner : binary digit.
Sesederhana bilangan binary digit “either 0 or 1” = “Off or On”. maka hendaknya matikan saja dengan segera apabila komunikasi on-line tidak lagi dipandang perlu atau pun mulai terasa membelenggu aktivitas manusia yang fitrahnya adalah sang empunya komando selaku khalifah di dunia : dunia maya dan realita.
Sumber: Up-dates CNN-Int & Softpedia-dot-com / Rizal Aachtung
Rabu, 15 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar